Indikator
  • Undercontruction

Makna Kemerdekaan Dalam Bingkai Pahlawan Zaman Now

Home / Opini / Makna Kemerdekaan Dalam Bingkai Pahlawan Zaman Now
Makna Kemerdekaan Dalam Bingkai Pahlawan Zaman Now Dwi Febriani, Tenaga Pendidik Jurusan Perhotelan dan Pariwisata SMK 17 Agustus 1945 Muncar. (FOTO: Istimewa)

TIMESPROBOLINGGO, BANYUWANGIPERTAMA marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan semesta alam yang telah memberikan nikmat dan karunia-Nya atas bentang alam negeri Nusantara yang gemah ripah loh jinawi ini.

Semoga harapan kedamaian dari kemajemukan bangsa yang besar ini bisa terwujud dan dibawa terbang oleh Garuda sebagai pegangan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tanggal 17 Agustus nanti Indonesia genap merdeka berusia 73 tahun. Simbolisasi dalam hari besar tersebut dilakukan dengan upacara bendera, biasanya dilanjutkan dengan rangkaian nyekar ke makam para pahlawan. Hal itu dilakukan sebagai upaya mengenang sejarah dan menghormati jasa-jasa mereka yang telah berjuang mendedikasikan seluruh jiwa dan raga untuk bangsa Indonesia.

Tidak salah memang jika Presiden Pertama Republik Indonesia (RI), Ir. Soekarno mengingatkan agar jangan sekali-kali melupakan sejarah. Sebab dengan sejarah kita bisa mengetahui kejadian masa lalu yang mungkin bisa kita implemetasikan atau tiadakan.

Berbicara sejarah kemerdekaan RI, memang erat kaitanya dengan Pahlawan. Dewasa ini, Pahlawan seringkali identik dengan seorang yang berjuang menggunakan senjata.

Di tengah keterbukaan era teknologi informasi saat ini, pengertian Pahlawan sudah mulai bergeser. Pada era milenial atau yang belakangan tengah viral disebut sebagai Zaman Now’, Pahlawan saat ini sudah beralih peran dan fungsi. Mereka tidak lagi mengangkat senjata bahkan beradu fisik untuk melawan musuh. Tetapi mereka yang mampu menjaga ideologi kemajemukan bangsa di atas segala perbedaan.  

Makna kemerdekaan di zaman now, hemat saya adalah mereka yang mampu menjaga persatuan dan kesatuan tanah air, mereka yang mampu berkarya membangun masyarakat bersama, mereka yang bisa membangun dengan semangat gotong royong serta mereka yang mampu berjuang merangkul, menghargai dan menghormati keyakinan masing-masing.

Mengutip data Departemen Perdagangan AS, melalui Biro Sensusnya, Kamis (6/3/2014), Indonesia merupakan negara yang memiliki jumlah penduduk terbesar keempat di dunia. Dengan hal ini dampaknya mempunyai potensi besar terjadinya konflik sosial yang dipicu oleh berbagai persoalan. Mulai dari sosial budaya, ekonomi, politik, hingga suku ras dan agama (SARA).

Sekali lagi ditegaskan, hari ini tantangan para pahlawan bukan mengangkat senjata untuk membombardir musuh, melainkan menebarkan virus-virus kebaikan dan kedamaian.

Di era keterbukaan informasi saat ini hampir semua orang mempunyai media sosial, seperti Facebook, Twitter dan WhatsApp, atau yang tengah hits saat ini adalah Instagram. Segala informasi yang bertebaran di dunia tidak nyata itu sangat mudah diakses oleh siapapun dan kapanpun serta oleh negara manapun. Entah itu konten positif atau konten yang bernuansa negatif, siapa saja bisa mengaksesnya dengan gampang.

Hemat saya, jika kita mempunyai salah satu dari media sosial tersebut maka sudah seharusnya digunakan secara bijak dan berkeadilan. Caranya dengan memanfaatkan media sosial tersebut untuk menyebarkan virus kedamaian, tidak menyebarluaskan informasi apapun sebelum kita tahu kebenaran informasi tersebut, dan yang paling utama adalah menyinggung soal SARA, tabayyun lah terlebih dahulu.

Dan yang tak kalah penting adalah stop adu domba serta bullying, hal itu dirasa sangat perlu, sebab saat ini pengaruh media sosial di era keterbukaan sangat kuat dan bisa merubah segalanya. Maka dari itu, di bulan kemerdekaan ini sebagai warga negara Indonesia yang baik mari bersama menjadi Pahlawan zaman now yang bijak, sehingga martabat bangsa di mata dunia bisa terus terjaga. (*)

* Penulis : Dwi Febriani, Tenaga Pendidik Jurusan Perhotelan dan Pariwisata SMK 17 Agustus 1945 Muncar Banyuwangi

Berita Terkait

Komentar

Top
Tim.my.id Wawanita.com satriamedia.com