Lama Ditutup, Kedubes Guatemala Dibuka Kembali di Jakarta

Home / Berita / Lama Ditutup, Kedubes Guatemala Dibuka Kembali di Jakarta
Lama Ditutup, Kedubes Guatemala Dibuka Kembali di Jakarta Menteri Luar Negeri Guatemala, Sandra Erica Jovel Polanco bersama Menteri Luar Negeri RI, Retno L.P. Marsudi pada pembukaan Kedubes Guatemala di Jakarta. (FOTO: kemenlu RI)

TIMESPROBOLINGGO, JAKARTAGuatemala membuka kembali Kedubesnya di Jakarta pada 10 Desember 2019 petang setelah ditutup pada tahun 1993.

Pembukaan Kedubes Guatemala itu juga ditandai dengan kunjungan Menteri Luar Negeri Guatemala, Sandra Erica Jovel Polanco ke Jakarta menemui Menteri Luar Negeri RI (Menlu RI), Retno Marsudi. Menlu Sandra berada di Indonesia selama dua hari (10-11/12/2019).

Guatemala adalah salah satu negara di benua Amerika Tengah. Tahun 1992, Guatemala pernah membuka Kedubesnya di Jakarta. Namun setahun kemudian ditutup. Dan pada 10 Desember 2019 petang, Kedubes Guatemala di Jakarta dibuka kembali secara resmi oleh Menlu Sandra Jovel  dan Menlu Retno.

Kunjungan Menlu Sandra kepada Menlu RI Retno Marsudi ini sekaligus kunjungan tingkat Menteri Luar Negeri pertama kali sejak Kedubes Guatemala dibuka kembali. "Saya sangat menyambut baik dan menyampaikan selamat atas pembukaan kembali Kedutaan Besar Guatemala di Jakarta," kata Menlu Retno.

Hubungan politik kedua negara selama ini telah berjalan dengan sangat baik, meski tanpa kedutaan di masing-masing ibukota negara. Dipilihnya Jakarta sebagai tempat berdirinya Kedubes Guatemala di kawasan Asia Tenggara, merupakan pengakuan Jakarta sebagai ibukota ASEAN. “Pembukaan kedutaan akan menjadi simbol kedekatan kedua negara meskipun dipisahkan oleh jarak yang cukup jauh," tambah Menlu Guatemala.

Kedua Menlu kemudian membahas upaya peningkatan hubungan dan kerja sama bilateral antara lain di bidang ekonomi, termasuk investasi dan perdagangan. Indonesia juga mendorong upaya penyelesaian Persetujuan Bebas Visa bagi Pemegang Paspor Diplomatik dan Dinas.

Guatemala adalah negara mitra perdagangan terbesar kedua bagi Indonesia di wilayah Amerika Tengah. Perdagangan bilateral tahun 2018 mencapai USD 50,29 juta dan akan ditingkatkan melalui berbagai mekanisme antara lain Latin America and the Caribbean (INA-LAC) Business Forum dan Trade Expo.

Guatemala juga merupakan negara eksportir produk minyak sawit utama di Amerika Latin. Menlu RI juga mengajak Menlu Guatemala untuk bekerja sama di sektor kelapa sawit terutama dalam melawan diskriminasi terhadap kelapa sawit.

"Saya juga mengundang Guatemala untuk bergabung menjadi anggota Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC)," tambah Menlu Retno Marsudi.

Seusai pertemuan, kedua Menlu menandatangani Memorandum Saling Pengertian mengenai Pembentukan Konsultasi Bilateral yang bertujuan sebagai sarana untuk meningkatkan kerja sama secara konkrit.

Dalam kunjungan di Jakarta, Menlu Guatemala Sandra Jovel juga melakukan kunjungan kehormatan kepada Sekretaris Jenderal ASEAN dan Direktur Eksekutif Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC). (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com