Warga di Kota Malang Gotong Royong Semprot Disinfektan

Home / Berita / Warga di Kota Malang Gotong Royong Semprot Disinfektan
Warga di Kota Malang Gotong Royong Semprot Disinfektan Warga di Kelurahan Bareng, Klojen, Kota Malang saat melakukan penyemprotan disinfektan. (Foto: Istimewa)
Fokus Berita

TIMESPROBOLINGGO, MALANG – Sejumlah warga di Kelurahan Bareng, Klojen, Kota Malang bergerak mandiri secara gotong royong melakukan penyemprotan disinfektan ke titik-titik tertentu, Kamis (26/3/2020).

Itu merupakan inisiatif kolektif warga karena bantuan disinfektan dari BPBD Kota Malang stoknya terbatas yakni per kelurahan 20 liter disinfektan kental.

Kelurahan yang berjumlah sekitar 18.465 orang yang terdiri dari 3.681 KK (Kepala Keluarga) tersebut terdorong melakukan sterilisasi lingkungan karena imbas dari virus Corona (Covid-19).

Lurah Bareng, Dwi Cahyono, menjelaskan bahwa kegiatan swadaya masyarakat ini perlu diapresiasi. Apalagi, Kota Malang ditetapkan sebagai zona merah oleh Pemprov Jatim.

"Saya salut dengan pergerakan warga yang secara mandiri baik peralatan maupun bahan baku untuk melakukan penyemprotan disinfektan secara swadaya.

Kita tahu walaupun dari Pemkot ada droping disinfektan tapi jumlahnya sangat terbatas sehingga partisipasi masyarakat yang muncul seperti di Bareng, RW 02,” katanya.

Pihaknya berharap kegiatan Relawan RW 02 Kelurahan Bareng ini akan menginspirasi yang lain, terutama yang secara ekonomi mungkin ada salah satu atau dua yang merasa mampu, di manapun itu untuk bisa tergugah.

“Meski ini seharusnya kewajiban pemerintah tapi kita tidak salah juga kalau dilakukan secara bersama," tuturnya.

Salah satu warga setempat, Arief Wahyudi, yang juga anggota Komisi B DPRD Kota Malang menyayangkan bantuan pemerintah yang sangat terbatas bagi kebutuhan warga. Disinfektan yang diberikan per kelurahan sebanyak 20 liter itu dinilai sangat kurang.

"Sebenarnya penyemprotan ini tidak bisa hanya sekali saja, 3 hari sudah hilang. Artinya cairan disinfektan sudah bersatu dengan air, udara dan alam, sudah nol lagi. Ini yang harus diperhatikan pemerintah. Kalau jatah ke kelurahan hanya segitu sangatlah kurang,” ungkapnya.

Pemkot Malang diharapkan bisa lebih serius lagi berupaya melakukan langkah antisipatif terhadap penyebaran virus Corona.

Arief melihat dan mendapatkan laporan dari konstituennya bahwa keluhan yang datang dari para pedagang kali lima. Para PKL ini kehilangan ladang pekerjaannya lantaran imbas Corona.

"Pemkot bisa menggeser APBD. Kedua, jaring pengaman ekonomi itu penting. Yang paling nampak orang yang jual makanan di depan sekolah. Ketika sekolah libur, apa yang mereka makan? Tidak ada pemasukan. Ini yang harus secara serius dipikirkan pemerintah," tegasnya.

“Di DPRD, saya selaku anggota DPRD siap menggeser anggaran sebesar-besarnya untuk kepentingan publik ini. Beri mereka stimulan. Beri mereka bantuan langsung tunai maupun tidak tunai. Karena tidak ada yang bisa dibuat makan lagi sekarang. Kami dapat laporan dari konstituen kami, mengeluhkan hal itu. Karena konstituen saya terus terang banyak yang berasal dari wiraswasta, jualan, pedagang kecil. Pak Wali Kota harus bertindak jangan setengah-setengah lah menangani,” imbuhnya lagi.

Kegiatan warga di Kota Malang ini bergerak bersama atas dasar gotong royong. Aktivitas penyemprotan ini terus dilakukan secara berkala dan bergilir. Tak hanya penyemprotan disinfektan tapi juga kerja bakti membersihkan lingkungan kampung untuk mengantisipasi penyebaran virus Corona (Covid-19). (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com