Sambut Pembukaan Kembali Bromo, PHRI Probolinggo Bantu Edukasi Masyarakat

Home / Berita / Sambut Pembukaan Kembali Bromo, PHRI Probolinggo Bantu Edukasi Masyarakat
Sambut Pembukaan Kembali Bromo, PHRI Probolinggo Bantu Edukasi Masyarakat PHRI Probolinggo bagi masker dan edukasi masyarakat sekitar, sebagai persiapan new normal. (FOTO: Happy/TIMES Indonesia)

TIMESPROBOLINGGO, PROBOLINGGO – Dalam waktu dekat, Kawasan wisata Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, bakal dibuka setelah vakum sepanjang awal 2020, atau sekitar 6 bulan.

Guna mendukung kebijakan dalam tatanan hidup baru pasca pandemi corona itu, pengusaha wisata di Kawasan Lereng Tengger, mulai berbenah. Serta memberikan edukasi pada masyarakat, agar disiplin protokol Kesehatan.

PHRI-Probolinggo-2.jpg

Sebelumnya, Pemkab Probolinggo berencana membuka beberapa destinasi wisata alam. Salah satunya, adalah Kawasan wisata internasional Gunung Bromo. Mendukung kebijakan itu, Paguyuban Hotel dan Restoran Indonesia Cabang Probolinggo (PHRI Probolinggo) , ikut andil dalam mempersiapkan masyarakat.

Di antaranya menerapkan disiplin protokol Kesehatan. Terutama penggunaan masker, bagi semua kalangan. Baik wisatawan yang datang ke Kawasan Bromo, penduduk local maupun pekerja wisata.

"Untuk itu, jelang pembukaan Kawasan wisata ini kami edukasi seluruh elemen masyarakat. Agar disiplin menerapkan protokol Kesehatan," kata Ketua DPC PHRI Kabupaten Probolinggo, Digdoyo Djamaludin, Selasa (30/6/2020).

Langkah awal yang ditempuh adalah, mewajibkan pelayanan di hotel dan restoran, sesuai protokol Kesehatan. Pemilik menyediakan tempat cuci tangan, wajib masker dan thermogun. Selain itu, PHRI juga mengedukasi masyarakat sekitar lereng Bromo. Dengan bagi-bagi masker dan sosialisasi tatanan hidup baru pasca pandemi corona.

Bagi bagi masker, dilakukan di sepanjang jalan protokol di Kecamatan Sukapura. Atau menuju pintu masuk Bromo. Sasarannya adalah pengguna jalan, masyarakat setempat dan pedagang di pasar.

"Dengan seluruh persiapan ini, kami berharap Kawasan wisata segera dibuka. Karena sudah terlalu lama kami tidak beraktifitas. Otomatis tidak ada penghasilan," jelasnya.

PHRI-Probolinggo-3.jpg

Masih menurut lelaki yang akrab disapa Yoyok ini, beberapa hotel dan restoran sampai gulung tikar. Selama pandemi corona berlangsung.

"Untuk even internasional seperti jazz gunung pun, banyak tamu yang cancel. Otomatis kami harus mengembalikan uang mereka yang sudah dibayarkan pada kami," imbuhnya.

Informasi yang dihimpun, ada ratusan masyarakat pekerja hotel dan restoran yang harus dirumahkan. Serta beberapa lainnya harus di putus hubungan kerja. Lantaran hotel dan restoran sudah tidak lagi mampu membayar karyawan. Tiga hotel, menurut Yoyok, dinyatakan bangkrut karena tidak ada tamu dan pemasukan.

Melalui rangkaian bagi-bagi masker dan sosialisasi langsung pada masyarakat, DPC PHRI Probolinggo berharap, saat wisata Gunung Bromo dibuka nanti, seluruh elemen masyarakat Tengger, Kabupaten Probolinggo, sudah siap, baik masyarakat umum, pekerja wisata maupun tamu yang datang. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com