Ini Beberapa Faktor Jokowi Berhasil Menang Telak di Bali

Home / Berita / Ini Beberapa Faktor Jokowi Berhasil Menang Telak di Bali
Ini Beberapa Faktor Jokowi Berhasil Menang Telak di Bali duet Jokowi-KH Ma'aruf dan duet Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESPROBOLINGGO, BALI – Kemenangan pasangan Capres dan Cawapres, duet Jokowi-KH Ma'aruf Amin dari pasangan duet Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sangat signifikan untuk di Provinsi Bali.

Hal tersebut, bisa dilihat dari hasil hitung cepat yang dilakukan oleh berbagai lembaga survei ternama di Indonesia pasangan petahana ini menyapu bersih seluruh Bali.

Pengamat politik dari Universitas Nasional (Udiknas) Denpasar, Dr Nyoman Subanda menjelaskan bahwa kemenangan Jokowi-Ma'ruf Amin yang sangat signifikan dan melebihi target ini sangat masuk akal.

"Hal ini sangat rasional bagi masyarakat Bali. Ada beberapa faktor, yang pertama faktor politik dan faktor figur Jokowi. Kemudian politik identitas. Itu yang saya lihat," ucapnya saat dikonfirmasi via telepon, Jumat (19/4/2019).

Subanda menjelaskan, untuk faktor politik bisa dilihat dari partai yang mendukung Jokowi dan Prabowo. Karena, masyarakat Bali juga akan melihat siapa saja partai pengusung di kandidat tersebut. 

Karena, menurutnya masyarakat Bali lebih cenderung ke partai-partai nasionalis. Sehingga, hal tersebut juga merupakan beberapa faktor yang memenangkan Jokowi sangat signifikan meraup suara di Bali.

"Dari dulu Bali akan melihat siapa partai di belakang itu. Kalau 5 tahun yang lalu  Prabowo itu masih ada Golkar partai nasionalis dan (sekarang) agama lebih banyak dan diera menguatnya identitas keagamaan," jelasnya.

Kemudian faktor yang kedua, adalah  figur dari sosok Jokowi. Subanda menjelaskan kalau dulu Jokowi adalah newcomer atau pendatang baru, yang sebagian masyarakat belum mengetahui seberapa kualitas Jokowi dalam leadershipnya. 

"Selain itu, sekarang kebetulan Jokowi dimenangkan oleh faktor incumbent. Dia sudah punya track record dan sudah dirasakan manfaat program-programnya dan sekaligus seperti apa Jokowi di mata masyarakat dan ini pengaruh betul pada respon masyarakat Bali," ujarnya.

Menurut Subanda, sebagian masyarakat Bali masih menginginkan Jokowi kembali memimpin. Karena, citra Jokowi sampai saat ini masih baik, sederhana dan kemudian dianggap masih jujur sampai saat ini.

"Kemudian partai-partai pendudukung Jokowi itu masih di respon lebih baik. Artinya, masih lebih relavan dan bukan berarti partai yang lain tidak baik.  Kemudian, Jokowi citranya juga sudah terbangun sampai di dunia internasional. Bali sangat berinteraksi dengan orang asing. Jadi berpengaruh, Bali sebagai pariwisata citra pemimpin kayak seperti apa. Jadi Bali sangat berkepentingan terhadap itu sebenarnya," ujarnya.

Faktor lain, menurut Subanda adalah para pemimpin-pemimpin Bali saat ini seperti Gubenur dan Bupati dan segala macamnya itu juga dari PDI Perjuangan yang notabene satu jalur dengan PDI Perjuangan.

"Jadi ada berbagai faktor, bukan satu-satunya faktor dari partai. Tapi berbagai faktor itu pengaruhnya sangat signifikan. Memang saya perkirakan 80 dan 90 persen itu (unggul). Karena, saya perkirakan partisipasi naik ketimbang Jokowi yang dulu," jelasnya.

Menurut Subanda, partisipasi Pemilu tahun 2019 sangat naik. Karena, pertarungan kelompok Jokowi dan Prabowo sangat ketat. Hal, tersebut yang membuat daya tarik partisipasi naik. 

"Artinya begitu ketat baik dari kelompok Jokowi maupun Prabowo dalam hal ini Prabowo juga menguat di seluruh Indonesia. Kelompok Prabowo menguat sebagai daya tarik menguatnya partisipasi," ujarnya.

Sementara untuk politik identitas, menurut Subanda itu juga berpengaruh tinggi. Dia menjelaskan, politik identitas itu sudah menguat dari awal tumbangnya Orde Baru dan kemudian muncul reformasi. Saat itu, ketika orde baru banyak masyarakat Bali yang awalnya di Partai Golkar bergeser ke Partai PDI pada era itu. 

"Lihat perolehan suara dari partai-partai yang ada. Ketika order baru tumbang kan bergesernya ke PDI Perjuangan tidak ke partai-partai yang lain. Bali itu tidak gampang untuk berubah. Pemilih-pemilih tradisional di Bali itu masih banyak. Sehingga dia bergesernya dari Golkar ke PDI pada waktu itu," jelasnya.

"Kemudian mereka mencari-cari bentuk, ketika ada perubahan ke SBY (Susilo Bambang Yudhoyono).Tapi (itu) masih nasionalis dan masih di sekitar itu. Sekarang kebetulan, yang namanya Golkar kemudian ke PDI Perjuangan dan beberapa partai ternyata politik identitas yang nasionalisme itu ada di pihak Jokowi. Sehingga mendukung kuatnya faktor-faktor yang lain," ujarnya.

Menurut Subanda, masyarakat Bali memang sejak dulu lebih cenderung kepada partai-partai nasionalis. Karena, Bali sudah sejak dulu masyarakatnya hidup heterogen dan multikultural. Sehingga, bila ada statement atau wacana yang bisa memberatkan NKRI itu juga bisa berpengaruh.

"Iya cenderung begitu (Partai Nasionalis). Karena begini, Bali itu sudah dari dulu hidup heterogen dan multikultural. Tapi kalau ada menguatnya identitas-identitas keagamaan. Apalagi nanti misalnya menjurus kepada wacana-wacana yang kira-kira dianggap berat untuk NKRI yang bertahan heterogen dan multikultural. Pasti orang Bali itu mikir-mikir juga," ujar Subanda. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com