Muhammad Al-Fayyadl: Kepahlawanan Bukan Milik Kaum Tua, Tapi Milik Generasi

Home / Berita / Muhammad Al-Fayyadl: Kepahlawanan Bukan Milik Kaum Tua, Tapi Milik Generasi
Muhammad Al-Fayyadl: Kepahlawanan Bukan Milik Kaum Tua, Tapi Milik Generasi Muhammad Al-Fayyadl.(FOTO: facebook)

TIMESPROBOLINGGO, PROBOLINGGOMuhammad Al-Fayyadl, cendekiawan muda Nahdlatul Ulama menyebut, kepahlawanan bukan milik kaum tua, melainkan milik para generasi milenial. Hal itu disampaikan Fayyadl, terkait peringatan Hari Pahlawan tahun 2019.

Apakah generasi milenial juga bisa ikut ambil bagian dari kepahlawanan itu? Alumnus Universite Paris VIII pada jurusan Filsafat dan Kritik Kontemporer Kebudayaan  (Vincennes-Saint-Denis) Prancis, ini juga menyebut, kaum tua dan muda saling berpotensi menjadi pahlawan.

Dalam situasi sekarang, ketika orang tua cenderung takut dan berpikir normatif tentang perubahan, generasi muda berpotensi tampil menjadi pahlawan bagi masyarakat.

“Asalkan mampu menangkap keresahan generasi tua dan mengatasinya dengan kreativitas, dan tindakannya yang inspiratif dalam hal manfaat dan kebaikannya bagi orang lain,” urai aktivis FNKSDA ini, kepada TIMES Indonesia, Minggu (10/11/2019).

Di momen Hari Pahlawan ini, pria kelahiran  Oktober 1985 yang juga penulis produktif ini menyampaikan, pahlawan milenial itu sebagai pendobrak.

Pahlawan milenial adalah pahlawan yang memperjuangkan aspirasi generasi muda milenial. Yang tidak mau mengulang kesalahan generasi modern dan pascamodern yang mewariskan masalah-masalah dalam kehidupan sosial, politik, budaya, lingkungan hidup, ekonomi, dan keagamaan.

Fayyadl mengenyam pendidikan dasar di MI Nurul Mun'im, Desa Karanganyar, Paiton. Berada di lingkungan pesantren, Fayyadl sering mengikuti pengajian kitab dari kakeknya, KH Hasan Abdul Wafi. Juga dari Pengasuh ke-3 Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Abdul Wahid Zaini.

Fayyadl pernah mondok di Pesantren Nurul Qur'an, Kraksaan, Probolinggo, menghafalkan beberapa surat al-quran. Saat lulus MI, ia melanjutkan ke Pondok Pesantren An-Nuqayah, Sumenep. Di pesantren ini, ia sekolah MTs dan MA. Ia mulai menulis buku.

Dari An-Nuqayah, Muhammad Al-Fayyadl melanjutkan pendidikan ke Program Studi Aqidah dan Filsafat, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Kemudian ke Universite Paris VIII.

Dari tangannya, lahir sejumlah buku. Antara lain, kumpulan puisi Pertemuan Sufi (2000); Tawashin, Kitab Kematian; Dekontruksi Derrida (2005), Teologi Negatif Ibn Arabi (2012), dan Filsafat Negasi.

Terkait Hari Pahlawan, bagaimana pandangannya tentang pahlawan hari ini?

"Pahlawan bagi dunia hari ini, yang mampu menyalakan asa bagi perubahan pola hidup dan pola pikir baru yang lebih kreatif, di tengah dunia yang semakin sarat dengan kekangan dan keterbatasan,” beber pria yang dilahirkan di lingkungan Pesantren Nurul Jadid, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo tersebut.

“Dan tentu, kepahlawanan justru dari orang yang masih hidup. Orang yang sudah meninggal disebut Pahlawan sebagai pengakuan. Namun tindakan kepahlawanan dilakukan semasa hidup. Pahlawan generasi milenial itu adalah sebagai pendobrak,” kata Muhammad Al-Fayyadl. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com