Kue Lompong, Si Hitam dari Tepung Ketan Khas Purworejo

Home / Gaya Hidup / Kue Lompong, Si Hitam dari Tepung Ketan Khas Purworejo
Kue Lompong, Si Hitam dari Tepung Ketan Khas Purworejo Kue lompong, makanan berbahan baku tepung ketan Khas Purworejo, Jawa Tengah. (FOTO: Fajar Rianto/TIMES Indonesia)

TIMESPROBOLINGGO, YOGYAKARTAKue lompong merupakan salah satu jajanan legendaris, khas kota Pensiunan Purworejo, Jawa tengah. Kue ini terbuat dari tepung ketan sebagai bahan dasarnya.

Uniknya, makanan khas Purworejo ini juga memanfaatkan batang daun talas (lompong), tepung merang, tepung ketan, dengan isian kacang tanah sangrai gepuk diberi pemanis gula.

Lompong adalah nama lokal untuk Talas. Sedangkan proses membuatnya bikin adonan dari tepung ketan diberi air, gula, bubuk daun talas, dan bubuk merang.

Kue-lompong-2.jpg

Adonan kue lompong tadi lalu diberi isian kacang tanah sangrai gepuk campur gula. Kemudian, diberi minyak kelapa agar tak lengket lalu di bungkus dengan 'klaras'. Setelah itu dilakukan proses pengukusan selama lebih kurang dua jam lamanya. 

Makanan ini hampir mirip kue moci. Namun, uniknya kue ini berwarna hitam menawan dan dibungkus daun pisang kering alami (kelaras). Serta di liliti tali mirip pada tempe kedelai di bungkus daun.

Namun, jangan salah. Meski berwarna hitam tetaplah menawan. Cita rasanya juga mempesona. Manis legit dan kenyal saat dimakan. Bisa bikin ketagihan bagi yang pernah merasakan.

Nah, uniknya pula sebagian pembuat kue ini merupakan keturunan Tionghoa. Jajanan jenis ini pun hanya ditemukan di sekitar Kabupaten Purworejo dan Kabupaten Kutoarjo, Jawa tengah.

Kue-lompong-3.jpg

Dua wilayah ini, kue lompong dijajakan mulai kelas rumahan hingga toko oleh-oleh. Harganya relatif murah untuk dapat menikmati cita rasanya. Yakni, sekitar Rp 2.500 hingga Rp 4.000 per biji, tergantung si penjual.

Berdasar pengalaman, kue lompong sanggup bertahan hingga seminggu lebih lamanya. Namun kue ini semakin lama akan semakin keras teksturnya. Untuk itu, setelah beberapa hari, sebaiknya harus dikukus kembali sebelum dihidangkan.

Lebaran Idul Fitri 1441 H kali ini memang terasa berbeda dari lebaran-lebaran sebelumnya. Mewabahnya pandemi Covid-19 telah membawa banyak perubahan dalam berbagai hal.

Dari hasil penelusuran TIMES Indonesia saat lebaran hari kedua (25/5/2020). Ternyata tidak mudah menemukan keberadaan kue lompong saat ini. Beberapa toko oleh-oleh yang didatangi mengatakan yang buat kue lompong masih libur lebaran.

Salah satunya Toko oleh-oleh di jalan utama Kutoarjo. Sedangkan beberapa toko sejenis yang lain saat didatangi pintunya dalam kondisi tertutup.

Kue-lompong-4.jpg

Tanpa kecuali bagi pembuat kue lompong yang satu ini. Setelah mendapat informasi akhirnya didapatkan salah satu produsen kue lompong rumahan. Dikenal sebagai mbak Ema, dirinya mengaku sepuluh tahun lebih usaha bikin kue tradisional Kabupaten Purworejo ini. Sedangkan keahliannya diperoleh secara turun temurun.

Lokasi usahanya masuk gang, berkisar 70-an meter dari jalan utama, kota Purworejo. Di tempat ini dirinya melakukan proses produksi kue lompong sekaligus memasarkanya sendiri.  Seperti biasa, Ema tidak pernah libur saat hari raya Idul Fitri. Karena saat inilah biasanya banyak pelanggan yang akan memesan kue lompong buatannya.

"Namun semenjak Corona mewabah usahanya terasa sepi. Karena saat ini jarang ada orang yang bepergian. Sedangkan yang biasa memborong adalah para tamu ataupun pendatang. Mereka yang akan bepergian biasa beli banyak untuk camilan dan buah tangan," terang Ema.

Kue-lompong-5.jpg

Tidak ayal, pada hari- hari lebaran sebelumnya. Dirinya mengaku, sehari bisa membuat seribu lebih kue lompong dan habis terjual pada hari itu juga. Namun saat ini, aku Ema. Sehari bikin 50 biji saja belum tentu habis. Karenanya Ema sempat membagi-bagikan gratis kue lompong buatannya.

Pada saat lebaran kali ini Ema mengaku mendapat pesanan kue lompong 20 biji. Namun dia membuatnya lebih banyak sedikit dari pesanan tadi. Begitu pula pada lebaran hari kedua. Saat didatangi terlihat Ema kembali mendapat pesanan kue lompong 20 biji lagi, yang akan di ambil sehari kemudian.

"Kalau dihitung, turunnya 90 persen lebih. Untuk membayar 'kelaras' saja saat ini terasa berat," ujar Ema.

Berbeda sekali pada tahun sebelumnya. Sebulan sebelum puasa (ruwah), saat orang banyak ziarah kubur pasti akan banyak pula pesanan datang. Begitu pula seminggu menjelang lebaran. Maupun saat lebaran hingga masa lebaran habis. Ema sering kewalahan melayani banyaknya pesanan kue lompong tadi.

"Semoga wabah ini segera berakhir, sehingga usahanya melestarikan kuliner legendaris ini bisa terus bertahan,” harap Ema, pemilik usaha Kue lompong Mbak Ema kota pensiunan Purworejo, Jawa tengah. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com