Gerakan Indonesia Bertani; Konsep dan Target

Home / Kopi TIMES / Gerakan Indonesia Bertani; Konsep dan Target
Gerakan Indonesia Bertani; Konsep dan Target Dr. Ir. Bambang Suwignyo, MP, IPM, Wakil Dekan P2M dan Kerjasama, Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

TIMESPROBOLINGGO, YOGYAKARTAISU kedaulatan pangan selalu menjadi hal penting bagi negara manapun dan pada kondisi apapun. Siapapun negeri di belahan dunia ini pasti menginginkan kecukupan pangan, papan dan sandang. Indonesia termasuk negara yang bercita-cita mandiri dalam pangan (swasembada).

Jika melihat potensi yang ada sudah selayaknya Indonesia swasembada pangan baik dari unsur tanaman maupun hewan. Pada era Covid-19 warga dihadapkan pada dilematis pemenuhan pangan. Pada saat himbauan untuk tinggal dirumah, ada yang harus terpaksa keluar rumah dan beriteraksi dengan banyak pihak seperti di pasar dan tempat umum lain untuk memenuhi pangan keluarga.

Ada yang harus order pangan dari luar dengan memanfaatkan jasa online. Namun ada juga yang sudah sattle karena segala bentuk pangan sudah tersedia disekitar rumah atau di dalam gudang logistik rumah, sehingga lebih fokus untuk memenuhi kebutuhan selain pangan.

Covid-19 tidak hanya  membuat suasana tidak nyaman, namun juga menebar kecemasan. Covid-19 telah menjadi teror yang luar biasa bagi masyarakat luas. Ketakutan tidak hanya karena penularannya, namun juga dampaknya.

Jika terjadi situasi harus stay di rumah maka perlu dipersiapkan skenario aksi untuk memenuhi pangan keluarga. Aktivitas ini jika dilakukan oleh setiap warga di negara ini maka akan berdampak pada pemenuhan pangan secara nasional yang mengarah kepada kedaulatan pangan.

Kita di Indonesia memiliki jumlah penduduk yang besar sekitar 260 juta jiwa. Secara teknis penduduk 260 juta jiwa bergantung atas sekitar 15 juta ha sawah dimana 50 persen luasan ada di Pulau Jawa yang luasannya hanya 6 persen dari wilayah daratan Indonesia, dengan dihuni 57 persen penduduk.

Analisis data BPS menunjukkan bahwa Jawa sebagai lumbung pangan atas empat dari tujuh komoditas unggulan yaitu sapi 50 persen, padi 51,5 persen, kedelai 61,8 persen dan jagung 53,4 persen. Jika Indonesia dapat merekonstruksi dan mendistribusi lumbung pangan maka Indonesia akan berdaulat pangan.

Indonesia memiliki peluang untuk berdaulat pangan karena kita memiliki lebih dari 70 jenis tanaman penghasil karbohidrat (Nasution, 2004), sekitar 50,2 persen penduduk tinggal di pedesaan (CNN, 2015), daratan Indonesia sekitar 70 persen dari total wilayah daratan 192 juta ha (setidaknya diklaim) terdiri atas hutan (143 juta ha) (Wiradi, 2009).

Selama ini Indonesia masih memiliki catatan impor yang tinggi dalam hal pangan. Impor tidak hanya menguras devisa, akan tetapi juga dapat berdampak pada kedaulatan negara.

Selain dengan pendekatan luasan lahan, maka perlu ada terobosan untuk mendukung kedaulatan pangan.

Konsep kedaulatan pangan yang melibatkan setiap warga, setiap kepala keluarga untuk terlibat. Konsep ini bersimpul pada dua prinsip yaitu setiap orang menjadi petani (menanam) dan setiap jengkal lahan menghasilkan pangan.

Namun demikian jika aktivitas ini tidak menjadi gerakan maka hanya akan berjalan lambat secara sporadis dan kurang berdampak pada kedaulatan pangan. Gerakan ini dapat disebut sebagai Gerakan Indonesia Bertani dengan tujuan mencapai kedaulatan pangan untuk penguatan kedaulatan negara. 

Jika ini menjadi gerakan maka dampaknya akan lebih jelas. Secara analog cuci tangan dan memakai masker, dahulunya belum menjadi budaya, namun saat Covid-19 ini cuci tangan dan memakai masker telah menjadi budaya.

Meskipun tidak semua di fasilitasi oleh pemerintah, namun kampanye cuci tangan dan memakai masker dilakukan secara masif sehingga muncul inisiatif-inisiatif dari warga terkait dengan cuci tangan dan memakai masker. Setiap rumah, setiap toko dan institusi banyak yang menyediakan tempat cuci tangan.

Melalui program dan kampanye maka Gerakan Indonesia Bertani akan menjadi solusi untuk kedaulatan pangan dimasa mendatang. Untuk daerah di pedesaan, dengan mayoritas masyarakat yang memang bermata pencaharian sebagai petani dan kepemilikan lahan yang masih luas (sawah dan ladang) maka tidak perlu ada deskripsi yang detail terkait dengan gerakan ini.

Petani di pedesaan, edukasinya lebih kearah bertani yang efektif, efisien dan sehat. Hal tersebut dapat di bahas pada lain waktu dalam tajuk pertanian ekologis atau pertanian sehat. Hal yang perlu kita diskusikan lebih lanjut adalah terkait dengan mereka yang tinggal di perkotaan atau di kawasan urban dimana lahan tidak lagi untuk pertanian.

 

***

*) Penulis adalah Dr. Ir. Bambang Suwignyo, MP, IPM, Wakil Dekan P2M dan Kerjasama, Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Pemerhati Sejarah dan Pendidikan Bangsa, Ketua Dewan Riset Daerah Kabupaten Kulon Progo dan Pengurus MPM Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com